

“Ah, moal kabeli ku Emak mah (Ah, gak akan kebeli sama Nenek mah)…”
Kalimat ketus itu masih terngiang di telinga Emak Juariah (64), lansia asal Pameungpeuk, Bandung. Hanya karena pakaiannya kotor khas pemulung, ia dipandang sebelah mata saat ingin membeli. Padahal, di balik baju lusuh itu, ada perjuangan luar biasa seorang istri demi suaminya, Abah Ade (72), yang kini buta total akibat diabetes.

Sudah 12 tahun Emak Juariah menyambung hidup dengan memulung sayuran busuk di Pasar Induk. Rasa malu sudah lama ia kubur dalam-dalam demi bisa makan.

Setiap hari, dari pukul 20.00-07.00, Emak menyisir tumpukan sampah sayur yang dibuang di pasar. Tak jarang ia dibentak pedagang atau dituduh mencuri. Tanpa tidur semalaman, Emak mencuci dan memilah sisa sayur busuk. Yang masih layak dijual, dijajakan keliling. Yang sudah rusak, dibersihkan untuk makan ia dan suami hari itu.

Dari hasil jualan Rp70.000, Emak harus membayar ongkos angkot Rp40.000. Artinya, Emak hanya membawa pulang Rp30.000 untuk bertahan hidup.

Seringkali Emak tertidur di pinggir jalan karena kelelahan luar biasa. Namun, ia tak pernah menyerah.
Saat ini, Emak Juariah sangat berharap bisa memiliki modal usaha agar bisa berjualan sayur dengan layak tanpa harus memulung di tumpukan sampah lagi. Ia ingin suaminya yang tak bisa melihat tetap bisa makan tanpa harus menunggu sayur sisa pasar.
#KawanAksi, yuk sisihkan sebagian rezeki kita dan muliakan masa tua Emak Juariah.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik